Minggu, 03 Februari 2013

PENULISAN ILMIAH


PENULISAN ILMIAH
(Arti, Pengetian dan Macam)


Makalah
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia 2


http://2.bp.blogspot.com/-meaKppy-4hY/TJ9D4XeucII/AAAAAAAAAAM/fAl0KkJ_bNo/s200/logo_gunadarma.jpg


Oleh
RENDRA DWI PERMANA
NPM: 25210734



PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2012







Arti Kata
bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan: penerbitan majalah -- berkembang dng pesat; -- populer bersifat ilmu, tetapi menggunakan bahasa umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam (tt artikel, gaya penulisan karya ilmiah); meng·il·mi·ah·kan v menjadikan ilmiah atau bersifat ilmu; mengilmukan: ia tidak dapat ~ hal-hal yg gaib

1.    Pengertian Penulisan Ilmiah
Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dari definisi yang lain dikatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Dari pengertian tersebut secara awal kita dapat mengenal salah satu ciri khas karya ilmiah adalah lewat bentuknya yakni tertulis, baik di buku, jurnal, majalah, surat kabar, maupun yang tersebar di internet, di samping ciri lain yang mesti dipenuhi dalam sebuah karya ilmiah.

1.    Macam Karya Tulis Ilmiah

Sesuai dengan cirinya yang tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
·         MAKALAH
Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa.
·         SKRIPSI
Skripsi, adalah karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan atau kajian pustaka dan dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.
·         TESIS
Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis kristis.
·         DISERTASI
Disertasi, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah.
·         ARTIKEL
Artikel, merupakan karya tulis lengkap, seperti laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66).  Artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Artikel merupakan: karya tulis atau karangan; karangan nonfiksi; karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).
Artikel mempunyai dua arti: (1) barang, benda, pasal dalam undang- undang dasar atau anggaran dasar; (2) karangan, tulisan yang ada dalam surat kabar, majalah, dan sebagainya. Tetapi, kita akan lebih jelas lagi dengan penguraian Webster`s Dictionary yang mengartikan bahwa artikel adalah a literary compositon in a journal (suatu komposisi atau susunan tulisan dalam sebuah jurnal atau penerbitan atau media massa). Sejak tahun 1980 para jurnalis Amerika sepakat untuk memakai istilah artikel bagi tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.
·         ESAI
Esai, adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi (opini penulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut. Jadi intinya kita harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai.
·         OPINI
Opini, adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.
·         FIKSI
Fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah ‘kebenaran’ yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalam golongan ini.
Di Perguruan Tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari.
1.    Tujuan Dan Kegunaan
Pada hakikatnya penulisan karya ilmiah pada mahasiswa bertujuan:
·         Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
·         Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
·         Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara STAIN dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
·         Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.

1.    Kesalahan Yang Sering Terjadi
Sebetulnya mahasiswa terlebih para sarjana memiliki modal kemampuan menulis. Hanya saja kemampuan tersebut haruslah senantiasa diasah agar tidak tumpul. Seorang mahasiswa serta sarjana yang memiliki kemampuan menulis akan lebih sukses daripada yang tidak memiliki kemampuan tersebut.
Beberapa bentuk kesalahan yang sering dijumpai dalam tulisan antara lain:
·         Salah mengerti audience atau pembaca tulisannya.
·         Salah dalam menyusun struktur pelaporan.
·         Salah dalam cara mengutip pendapat orang lain sehingga berkesan menjiplak (plagiat).
·         Salah dalam menuliskan bagian Kesimpulan, penggunaan Bahasa Indonesia (akan dibahas secara khusus) yang belum baik dan benar.
·         Tata cara penulisan “Daftar Pustaka” yang kurang tepat (tidak standar dan berkesan seenaknya sendiri).
·         Tidak konsisten dalam format tampilan (font yang berubah-ubah, margin yang berubah-ubah).
·         Isi yang terlalu singkat karena dibuat dengan menggunakan point-form seperti materi presentasi.
·         Isi justru terlalu panjang dengan pengantar introduction yang berlebihan.
Ciri-ciri sebuah karya ilmiah dapat dikaji dari minimal empat aspek, yaitu struktur sajian, komponen dan substansi, sikap penulis, serta penggunaan bahasa. Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
Sumber:
http://www.artikata.com/arti-330467-ilmiah.html
http://aryonelmessi.wordpress.com/2011/02/24/penulisan-ilmiah-2/

PENALARAN



PENALARAN
(Arti, Pengertian dan Jenis)


Makalah
Ditulis untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia 2


http://2.bp.blogspot.com/-meaKppy-4hY/TJ9D4XeucII/AAAAAAAAAAM/fAl0KkJ_bNo/s200/logo_gunadarma.jpg


Oleh
RENDRA DWI PERMANA
NPM: 25210734



PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2012








Menurut arti kata:
“Penalaran” mempunyai berbagai makna, diantaranya:

·                      Cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran: kepercayaan takhayul serta ~ yg tidak logis haruslah dikikis habis;
·                      Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman;
·                      Proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip;

  1. PENGERTIAN PENALARAN
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proporsisi-proporsisi yang sejenis , berdasarkan sejumlah proporsisi yang diketahui atau dianggap benar, orang akan menyimpulkan sebuah proporsisi yang baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Jenis-jenis Penalaran.
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit.

Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sementara. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum.

Sumber tulisan:
1.       Dra. VERO SUDIATI, A. WIDYAMARTAYA, 1995, Kiat dasar mengarang, Jakarta,yayasan pustaka nusantara.

Minggu, 30 September 2012

Sejarah Bahasa Indonesia


            Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu tanpa mengetahui historisnya. Perlu diingat bahwa bahasa Melayu merupakan salah satu dialek yang tersebar di Nusantara yang dipakai sejak jaman dulu, tetapi karena Melayu sudah merupakan lingua franca atau juga disebut Melayu Pasar, maka pemakaiannya lebih menonjol apabila dibandingkan dengan dialek-dialek melayuiyan lain. Bahasa Melayu sebagai bahasa Nasional ada empat faktor penyebabnya. Pertama karena bahasa ini sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan perdagangan. Kedua, bahasa ini mudah dipelajari dan tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa dan Sunda. Ketiga, suku-suku lain mau menerima bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia dan keempat bahasa Melayu mempunyai kesanggupanuntuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas. akhirnya  bahasa Melayu diresmikan menjadi bahasa persatuan dan Nasional pada  peristiwa sumpah pemuda.
            Sejarah telah mencatat bahwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah titik kulminasi bagi penentuan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, karena pada waktu itu pertama kali kita Mengikrarkan sumpah yang berbunyi:
1. Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu Tanah Air Indonesia
2.Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia
3. Kami putra-putri Indonesia mengaku menjunjung persatuan yaitu bahasa Indonesia.
Sebagai suatu bahasa yang hidup, dipakai oleh rakyat yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang masing-masing mempunyai bahasa daerahnya sendiri-sendiri, bahasa Indonesia menerima pengaruh dari bahasa daerah tersebut. Pengaruhnya ini tidak terbatas pada pemungutan kata-kata, tetapi tampak juga pada struktur kata dan kalimat.  Seminar politik bahasa Indonesia yang diselenggarakan pada Februari 1975, merumuskan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai berikut:
a. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional.
b. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya ke dalam kesatuan kebangsaan nasional.
       c. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional     
d. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perhubungan antara daerah dan antara budaya.

Bahasa Indonesia yang kini dipakai oleh kita bangsa Indonesia sebagai bahasa resmi di Negara kita dan bahasa perhubungan atau pergaulan setiap hari berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia bersifat politis, sejalan dengan nama negara merdeka yang diidam-idamkan negara Indonesia dan suatu bangsa bersatu yaitu bangsa Indonesia. Bersifat politis karena dengan rasa bersatu yang ditimbulkannya, semangat untuk berjuang bersama-sama dalam mengejar kemerdekaan lepas dari penjajahan akan lebih berkobar-kobar. Bangsa Indonesia lebih merasa terikat dalam satu ikatan karena merasa; satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa

Sabtu, 29 September 2012

Bahasa sebagai Jati Diri


Pada dasarnya bahasa merupakan alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aktifitas formal ataupun nonformal. Bahasa juga merupakan ciri khas suatu bangsa yang mencerminkan jati dirinya. Oleh karena itu bahasa harus senantiasa di jaga dan dikembangkan secara terus menerus. Ini sangat penting mengingat di era peradaban zaman yang terus berkembang yang mengikuti arus modern. Adanya modernisasi dan globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan khusunya dalam budaya menyebabkan pergeseran rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Mempelajari bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Korea, bahasa Jerman dan lainnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sejatinya mereka adalah calon generasi penerus bangsa.
Masyarakat pada umumnya mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu tidak gaul, tidak keren, terlalu basa-basi, atau terlalu rumit. Itu memang benar, dari sisi mereka. Tapi sebenarnya bahasa Indonesia itu adalah bahasa yang tidak mengangungkan keren atau gaul, tapi tata cara berbahasa yang baik dan benar. Bukankah bahasa Indonesia itu adalah bahasa persatuan. “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, ikrar tersebut merupakan salah satu utama untuk memajukan martabat bangsa ini. Pada dasarnya, masyarakat sekarang terlalu gengsi dengan bahasa mereka sendiri. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang terbentuk dari beraneka ragam suku dan budaya. Salah satu jembatan pemersatu itu bernama Bahasa Indonesia. Memang sulit untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa Indonesia di zaman yang menjadikan dunia seolah-olah tanpa batas. Semua harus berawal dari diri kita masing-masing sebagai bangsa Indonesia yang sejatinya telah menjadi pemilik bahasa Indonesia. Masyarakat baik dari kalangan pemerintah, akademisi hingga seluruh lapisan masyarakat wajib untuk melestarikan bahasa Indonesia mulai dari hal-hal yang kecil seperti penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan menanamkan rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dalam afiliasinya memang dituntut menjadi bahsa yang luwes, dan bisa disesuaikan dengan peradaban yang semakin modern. Bahasa Indonesia juga dituntut mampu menjadi bahasa pendidikan yang mempunyai kriteria nilai tertinggi. Bahasa Indonesia juga dituntut menunjukkan jati dirinya sebagai bahasa yang berkedudukan sebagai bahasa yang resmi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa sejak dini sangat penting. Terutama pada jenjang sekolah, anak harus dapat berkomunikasi menggunakan bahasa yang baik dan benar. Mempelajari Bahasa Indonesia membutuhkan pemahaman dan niat dari diri sendiri agar kita mampu untuk membudayakan dan menjadikan bahasa ini lebih dikenal di era global tanpa meninggalkan kebudayaan yang merupakan jati diri sendiri.
 Bersyukur karena Indonesia memiliki beragam budaya, etnik dan kekayaan lainnya sebagai modal menjadi bangsa yang maju. Dengan meningkatnya rasa syukur, kecintaan terhadap Indonesia semakin bertambah, kebanggaan menjadi warga Indonesia semakin berapi-api dan ikut serta berpartisipasi dalam pelestarian bahasa Indonesia hingga ke berbagai pelosok Indonesia yang notabene belum mengenal bahasa Indonesia secara utuh. Perbanyak usaha mengenalkan bahasa Indonesia dalam berbagai kegiatan pengenalan budaya di luar negeri